Senin, 07 Agustus 2017

Perbedaan Waktu Indonesia dan Jepang

Jepang adalah contoh negara dengan tingkat kedisiplinan warganya yang sangat tinggi. Setiap warganegara Jepang akan mengeset jam mereka dengan waktu standar yang berlaku di sana (Japan Standard Time). Waktu standar Jepang berpatokan pada jam atom yang dimiliki Badan Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi. Tadinya Waktu Standar Jepang ditentukan menurut waktu matahari rata-rata setempat di Observatorium kota Akashi yang berlokasi di kota Akashi.

Perbedaan waktu Indonesia dan Jepang terpaut 2 jam. Artinya waktu Jepang lebih cepat 2 jam dibandingkan Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB). Ini bisa dipersamakan dengan Waktu Indonesia Bagian Timur (WIT) yang juga lebih cepat 2 jam dengan WIB. Jepang dan masyarakatnya memang unik dan super disiplin. Semua aktivitas penduduknya akan berjalan menurut jadwal waktu yang sudah ditentukan. Contohnya saja jadwal kereta ke Shibuya jadwal kedatangannya adalah jam 10.00, maka bisa dipastikan pada jam 9.59 atau jam 10.00 persis kereta akan datang. Kemudian jam istirahat sekolah, kantor pemerintah atau swasta pasti akan serempak istirahat jam 11.45, 12.00 atau 12.15 sesuai kebijakan pengelola gedung. Di jam-jam yang sudah disebutkan tadi maka pasti akan terdengar bel istirahat.

Masyarakat Jepang terkenal dengan kedisiplinan dan produktivitasnya yang tinggi. Karena kultur kerja seperti itu bangsa Jepang mampu sejajar dalam hal ekonomi dengan negara maju seperti Amerika dan beberapa negara Eropa. Masyarakat Jepang memiliki etos kerja hebat. Etos kerja tersebut lah yang berperanan penting dalam kebangkitan perekonomian Jepang utamanya pasca bangsa ini takluk di Perang Dunia kedua. Pada masa lalu masyarakat Jepang tidak lah seperti sekarang ini sebab mereka terbiasa bersantai dan senang-senang. Ketika mereka kalah perang dan kondisi serba kacau balau termasuk dalam perekonomian. Pengangguran pun terjadi dimana-mana, ketika itu masyarakat Jepang tak memiliki pilihan lain kecuali bekerja keras sehingga dapat bertahan.

Keadaan serba tak mengenakkan tersebut secara tak langsung melatih kedisiplinan dan membentuk etos kerja yang hebat. Etos kerja generasi pendahulu kemudian diturunkan kepada generasi penerusnya lewat pendidikan di sekolah-sekolah. Salah satu budaya para pekerja di Jepang adalah malu jika pulang cepat dari kantor. Sebab itu dianggap bahwa pekerja tersebut termasuk mereka yang tak penting dan tak produktif. Status pekerja di Jepang yaitu disiplin kerja dan waktu di tempat kerja. Rasa cinta masyarakat Jepang terhadap pekerjaannya menjadikannya fokus dan tanpa adanya pengawas pun para pekerja akan bekerja dengan sepenuhnya dan berdedikasi.