Memahami Perbedaan Fakir dan Miskin

Saat membahas orang yang berhak menerima zakat, kita kerap bingung menentukan perbedaan fakir dan miskin. Kedua golongan ini hampir mirip satu dengan yang lain. Meski sejatinya kedua istilah ini memiliki perbedaan menurut Islam. Berikut akan dijelaskan perbedaan fakir dan miskin menurut beberapa mazhab yang ada.

Perbedaan fakir dan miskin menurut Mazhab Syafi'i dan Hambali :
Fakir yaitu orang yang tak memiliki harta sekaligus pendapatan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makan, pakaian dan tempat bernaung. Misalnya perempuan yang tak memiliki suami dan ia sendiri tak bekerja. Sementara miskin yakni orang yang tak memiliki harta cukup yang berguna mencukupi kebutuhan dasarnya, akan tetapi masih memiliki kesanggupan untuk mencarinya. Orang miskin memiliki kemampuan memperoleh penghasilan meski teramat sedikit dan mencukupi untuk menyambung hidup. Bisa ditarik kesimpulan bahwa perbedaan fakir dan miskin, bahwa kondisi fakir itu lebih mengenaskan di banding orang miskin. Orang miskin masih memiliki peluang menghasilkan kendati tak cukup untuk hidup. Sementara orang fakir benar-benar tak memiliki apa-apa dan tak memiliki kesanggupan mencukupi kebutuhan dasarnya. Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist pernah berdoa supaya termasuk golongan orang miskin. Abi Said A-Khudhri ra. yang mengatakan : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Allahumma ahyini miskina, watawaffani miskina, wahsyurni fi zumratil masakin (Hadist shahih HR Ibnu Majah dan Al-Hakim) yang artinya "Ya Allah hidupkanlah aku dalam kondisi miskin. Matikan aku dalam kondisi miskin dan kumpulkan aku bersama orang-orang miskin. Sementara kondisi fakir merupakan sesuatu dimana Rasulullah SAW selalu berlindung daripadanya.

Perbedaan fakir dan miskin menurut Mazhab Hanafi dan Maliki :
Sebaliknya dari pengertian fakir dan miskin di atas, Hanafi dan Maliki mengatakan jika orang miskin itu lebih parah kondisinya dibanding orang fakir. Pendapat tersebut didasari arti bahasa dan dari ayat Al-Qur'an Al-Balad :16 yaitu"Atau kepada orang miskin yang sangat fakir". Dijelaskan pada ayat tersebut jika terdapat orang miskin yang sangat fakir, seakan kondisinya jauh lebih parah dibanding orang miskin.

Sebagian menyatakan jika fakir yaitu orang-orang yang meminta-minta, sementara orang miskin tidak meminta-minta seperti pandangan yang dikemukakan oleh Ibnu Baththal. Lepas dari perbedaan fakir dan miskin dan yang mana yang lebih buruk kondisinya namun yang pasti kedua golongan ini sama-sama merupakan golongan yang menerima zakat. Sebagaimana yang dijelaskan dalam AlQuran surah At-Taubah : 60 "Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang tengah dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".