Minggu, 14 Februari 2016

Perbedaan Syair dengan Pantun Disertai Contoh

Pantun dan syair adalah dua bentuk puisi lama yang sampai kini masih sering digunakan. Meski sama-sama sebagai puisi lama namun ada beberapa perbedaan syair dengan pantun. Syair adalah karangan berbentuk terikat yang mengutamakan irama sajak. Syair sendiri bermula dari wilayah Arab yang kemudian masuk ke wilayah nusantara berbarengan dengan penyebaran agama Islam. Ketika itu syair sudah berubah dalam hal bahasa yaitu menggunkan logat melayu kuno. Syair tersusun atas 4 baris dengan irama a-a-a-a. Keseluruhan baris tadi terkandung maksud atau tujuan dari si pembuat.


Sementara pantun tersusun dari 4 baris dengan sajak berpola ab-ab. Sebuah pantun tidak boleh menggunakan pola a-a-b-b, atau a-b-b-a. Serta umumnya setiap baris terjalin dari 4 kata. Untuk dua baris pertama diistilahkan sebagai sampiran (pembayang), adapun dua baris seterusnya dinamakan dengan isi. Bila pantun semula hanya sebagai karya sastra lisan akan tetapi kini mulai banyak ditemui karya pantun berbentuk tertulis.

Kendati berbeda, namun antara syair dan pantun ada juga beberapa persamaannya yaitu : sama-sama tersusun atas 4 baris, sama-sama terikat dengan irama sajak, tiap baris berisi antara 8 hingga 10 suku kata dan sama-sama sebagai puisi lama. Sementara perbedaan utama syair dengan pantun adalah sebagai berikut :

- Pada pantun, baris pertama dan kedua diistilahkan sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat dinamakan isi. Pada Syair keempat baris merupakan maksud dari pembuat.
- Pantun memiliki irama sajak dengan pola a-b-a-b atau a-a-a-a, sementara untuk syair harus memiliki irama a-a-a-a.
- Pada pantun bisa menggunakan bahasa campuran, sementara syair harus menggunakan bahasa sama.

Contoh-contoh pantun :

Yang berbaju biru adalah Rosa.
Yang berbaju merah adalah Tatang.
Kalau cemburu itu artinya cinta.
Kalau marah itu artinya sayang.

Sambil menyelam minum air.
Ada udang di balik batu.
Meski hati robek dan lumer
Kanda tetap mencintai dikau.

Bila ada semut di ladang.
Bolehlah kita membawa nampan.
Saat semua orang menghilang.
Cuma dikau yang kuharapkan.

Pohon kelapa banyak gunanya.
Dibikin atap satu contohnya.
Tak tahu kenapa tiada sirna.
Matamu menatap membikin gila.

Contoh-contoh syair :

Rajinlah engkau ibadat.
Jangan lupa kerjakan Sholat.
Juga perbanyak tunaikan zakat.
Sebagai bekal kelak di akhirat.

Dengar-dengar hai ananda.
Rajin belajar sepanjang masa.
Ilmu tiada habis untuk dieja.
Untuk bekal sepanjang usia.

Berkat ilmu kamu terjaga.
Dari gelapnya waktu dan masa.
Cemerlang selalu senantiasa.
Sinari dirimu di kala dewasa.

Jika berteman hindari bergaduh.
Tiada guna bermusuh-musuh.
Jauhi sikap sombong dan angkuh.
Tersingkir hidup kian membuat keruh.

Meski berharta tidak usah menghina.
Kaya atau miskin sama saja.
Yang hina jangan ditambah hina.
Karena hidup laksana roda.
Perbedaan Syair dengan Pantun Disertai Contoh Rating: 4.5 Posted by: muhammad hakum