Cermat Melihat Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

Bila dilihat secara sekilas operasionalnya, tak ada perbedaan bank syariah dan bank konvensional. Namun bila dicermati lebih ke dalam, ada banyak perbedaan bank syariah dan bank konvensional yang mungkin masyarakat umum belum begitu paham. Meski belum lama beroperasi di Indonesia namun perkembangan bank syariah cukup menggembirakan. Bahkan kini bank-bank konvensional pun mulai membuka unit bank syariah untuk memenuhi tingginya kebutuhan nasabah akan layanan berbasis hukum Islam ini.


Bank Syariah beroperasi dengan muamalah yaitu semua akad yang mengijinkan orang-orang saling bertukar manfaat terutama dalam bidang ekonomi lewat lembaga bank. Bank syariah harus mendasarkan kegiatannya pada apa-apa yang ditentukan oleh Alquran dan hadist yaitu menjauhkan diri dari kegiatan-kegiatan riba dan diganti dengan usaha investasi dengan bagi hasil ataupun menyediakan pembiayaan perdagangan. Dalam Alquran disebutkan mengenai dilarangnya praktik riba yang menjadi dasar dari muamalah bank syariah yaitu : surat Al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi : ”orang-orang yang makan (mengambil) riba tak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila”. Kemudian dalam surat Ali Imran ayat 130 yang berbunyi : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.

Antara bank syariah dan bank konvensional nampak tak berbeda misalnya cara menerima setoran dan mengambil uang, cara transfer uang, adanya kliring, mengeluarkan cek dan giro bilyet, memiliki ATM dan juga menyediakan kredit. Namun sebenarnya ada beberapa perbedaan bank syariah dan bank konvensional yang cukup mendasar sebagaimana diuraikan selanjutnya ini :

- Pada bank syariah, akad atau perjanjian yang dibuat membawa tanggung-jawab dunia dan akhirat sebab dilaksanakan menurut aturan Islam. Acapkali nasabah bank konvensional berani melanggar perjanjian yang sudah dibuat jika cuma didasarkan pada hukum positif.

- Perselisihan yang terjadi antara bank syariah dengan nasabahnya bisa ditangani lewat Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas) maupun lewat Pengadilan Agama, sementara untuk bank konvensional lewat Pengadilan Negeri.

- Hirarki organisasi bank syariah di samping memiliki Dewan Komisaris dan Direksi sebagaimana bank konvensional, diwajibkan juga adanya Dewan Pengawas Syariah (DPS). DPS ini dengan fungsi pengawasan operasional dan produk yang dikeluarkan oleh bank syariah tetap sesuai dengan ketentuan Islam. Pada bank konvensional struktur oerganisasi yang dimilikinya tak mengharuskan adanya Dewan Pengawan Syariah ini.

- Pada bank syariah usaha yang dijalankan harus lolos dari filter Islam. Sebab itu bank syariah sebatas mendanai bidang usaha halal saja. Sementara bank konvensional mendanai bentuk usaha apa saja.

- Bank syariah berlandaskan asas bagi hasil, jual-beli serta sewa-menyewa. Sementara bank konvensional memakai prinsip bunga bank.

- Bank syariah berorientasi ke laba dan falah yaitu memperoleh kesejahteraan dunia dan keselamatan akhirat. Untuk bank konvensional 100 % berfokus ke profit.

- Perbedaan bank syariah dan bank konvensional pun bisa dilihat dari kewajiban membayar zakat. Pada bank syariah di samping berkewajiban menampung pembayaran zakat, infaq dan sodaqoh dari para nasabahnya juga membayarkan zakat dari keuntungan yang didapatnya. Untuk bank konvensional tak berlaku ketentuan pembayaran zakat dari profit yang dihasilkannya.